Lanskap energi global sedang bergejolak, ditandai dengan meningkatnya konflik geopolitik, rantai pasokan yang tidak dapat diandalkan, dan harga yang tidak menentu. Namun, Inggris memiliki keunggulan yang terabaikan: cadangan minyak dan gas dalam negeri dalam jumlah besar yang belum dimanfaatkan yang secara signifikan dapat mengurangi ketergantungan pada sumber-sumber asing.
Krisis Global: Reaksi Berantai
Peristiwa yang terjadi baru-baru ini di Timur Tengah, khususnya di sekitar Iran, telah mengungkap rapuhnya jaringan energi global. Tindakan militer destruktif yang dilakukan oleh negara-negara besar – termasuk Rusia, Amerika Serikat, dan Iran – telah menciptakan ketidakstabilan. Ketergantungan dunia pada kapal tanker minyak yang melewati titik-titik strategis seperti Selat Hormuz berarti bahwa gangguan di wilayah ini dapat dengan cepat menyebabkan kekurangan bahan bakar yang meluas.
Masalahnya bukan hanya pada harga minyak. Krisis yang terjadi saat ini adalah bencana kemanusiaan, lingkungan hidup, dan keuangan. Warga sipil, terutama anak-anak, menanggung beban konflik yang paling besar yang menyebabkan kekurangan ini. Kenyataannya adalah pasokan energi rentan terhadap ketegangan geopolitik, sehingga ketergantungan pada sumber energi asing semakin berisiko.
Potensi Inggris yang Belum Termanfaatkan
Meskipun banyak negara bergantung pada pengiriman bahan bakar jarak jauh, Inggris memiliki keunggulan penting: Laut Utara. Perkiraan menunjukkan bahwa hingga 7,5 miliar barel minyak dan gas masih dapat diperoleh dari perairan Inggris – lebih dari dua kali lipat perkiraan konservatif pemerintah.
Hal ini bukan hanya mengenai keamanan energi; ini tentang peluang ekonomi. Offshore Energies UK memproyeksikan bahwa produksi dalam negeri dapat menghasilkan sekitar £165 miliar nilai tambah ekonomi. Dengan melakukan pengeboran dan pengadaan secara lokal, Inggris dapat memastikan pasokan energi yang lebih cepat, lebih ramah lingkungan, dan lebih dapat diandalkan. Saat ini, pengisian daya kendaraan listrik pun bergantung pada gabungan sumber energi, termasuk gas alam dan biomassa, serta energi terbarukan.
Jalan ke Depan
Inggris tidak bisa terus menjadi sandera pemasok energi asing. Produksi dalam negeri menawarkan solusi yang jelas: stabilitas yang lebih baik, manfaat ekonomi, dan pengurangan dampak lingkungan dibandingkan dengan pengiriman jarak jauh. Pertanyaannya bukanlah apakah Inggris dapat menjamin masa depan energinya, namun apakah Inggris akan memprioritaskan sumber daya dalam negeri dibandingkan ketergantungan geopolitik.
“Kepulauan Inggris tidak akan pernah lagi dibiarkan tak berdaya di bawah belas kasihan pemasok minyak dan gas asing.”
Berinvestasi dalam produksi energi dalam negeri bukan lagi sekadar persoalan kehati-hatian ekonomi; ini masalah keamanan nasional.





























