Rolls-Royce telah meninggalkan komitmennya untuk menjadi merek serba listrik pada tahun 2030, dan memilih untuk terus memproduksi mesin 12 silinder khasnya tanpa batas waktu. Pergeseran ini terjadi di tengah melambatnya permintaan kendaraan listrik (EV) dan berkembangnya lanskap peraturan.
Mengubah Arah Elektrifikasi
Hanya dua tahun setelah meluncurkan Spectre, kendaraan listrik pertamanya, dan berjanji untuk menghentikan penggunaan mesin pembakaran pada akhir dekade ini, Rolls-Royce kini memprioritaskan fleksibilitas. CEO Chris Brownridge membenarkan perubahan strategi tersebut, dengan menyatakan bahwa meskipun rencana awal yang sepenuhnya menggunakan listrik “tepat pada saat itu”, realitas pasar telah berubah.
Keputusan ini mencerminkan tren yang lebih luas dalam industri otomotif, di mana target awal kendaraan listrik yang agresif sedang dikalibrasi ulang sebagai respons terhadap perilaku konsumen dan keterbatasan teknologi. Tidak seperti merek pasar massal yang menghadapi peraturan emisi yang lebih ketat, Rolls-Royce beroperasi di segmen mewah di mana preferensi pelanggan sangat mempengaruhi keputusan produksi.
Permintaan dan Regulasi Mendorong Pergeseran
Pembalikan ini sebagian disebabkan oleh melemahnya penjualan kendaraan listrik. Meskipun Spectre mengalami permintaan awal yang kuat pada tahun 2023, penjualannya anjlok sebesar 47% pada tahun 2025, dengan hanya 1.002 unit terjual. Hal ini kontras dengan daya tarik model Rolls-Royce tradisional yang terus berlanjut; Ghost, misalnya, terjual 993 unit dalam periode yang sama.
Standar emisi yang dilonggarkan juga berperan. BMW Group, perusahaan induk Rolls-Royce, telah mengonfirmasi bahwa pihaknya dapat memenuhi peraturan Euro 7 di masa depan dengan memperbarui teknologi mesin pembakaran yang ada daripada menghilangkannya sama sekali. Hal ini memungkinkan Rolls-Royce mempertahankan produksi V12 tanpa melanggar pedoman lingkungan.
Masa Depan Powertrain Rolls-Royce
Meskipun ada perubahan, Rolls-Royce akan terus menawarkan Spectre EV bersama kendaraan bertenaga bensinnya. Perusahaan menyadari bahwa sebagian pelanggannya masih lebih menyukai pengalaman kemewahan tradisional yang diberikan oleh mesin pembakaran.
Keputusan ini menggarisbawahi pentingnya beradaptasi dengan dinamika pasar dibandingkan hanya mengikuti rencana jangka panjang, khususnya dalam industri yang berkembang pesat seperti otomotif.
Langkah Rolls-Royce ini menandakan penyesuaian pragmatis terhadap realitas adopsi kendaraan listrik, menyeimbangkan tujuan keberlanjutan jangka panjang dengan permintaan konsumen dan kelayakan peraturan. Mesin V12, yang menjadi landasan identitas merek, akan tetap tersedia di masa mendatang.
