Eropa dan Tiongkok Menuntut Pengembalian Kontrol Fisik pada Mobil

22

Produsen mobil di seluruh dunia diam-diam mengubah tren interior mobil yang mengutamakan digital, seiring Eropa dan Tiongkok mendorong pengenalan kembali tombol fisik untuk fungsi-fungsi penting. Pedoman keselamatan baru dari kedua wilayah memprioritaskan ergonomi dan keselamatan pengemudi dibandingkan desain minimalis dengan banyak layar sentuh.

Reaksi Terhadap Kelebihan Layar

Selama bertahun-tahun, industri otomotif telah menggunakan layar sentuh untuk memangkas biaya produksi dan menarik konsumen yang berfokus pada teknologi. Namun tren ini menjadi bumerang. Studi menunjukkan bahwa pengemudi semakin frustrasi dengan layar sentuh di dalam mobil, yang memerlukan perhatian berlebihan dan waktu reaksi yang lambat. Pakar keselamatan memperingatkan bahwa mengandalkan antarmuka digital meningkatkan gangguan, terutama dalam situasi kritis.

Sikap Eropa: Peringkat Keamanan NCAP

Euro NCAP Eropa, program penilaian keselamatan kendaraan yang berpengaruh, akan memberikan sanksi kepada kendaraan yang secara eksklusif mengandalkan layar sentuh untuk kontrol dasar mulai bulan Januari 2026. Untuk mendapatkan peringkat bintang lima yang didambakan—sebuah keuntungan pemasaran utama—mobil kini harus memiliki tombol fisik untuk lampu sein, wiper kaca depan, lampu hazard, klakson, dan panggilan darurat.

Tujuannya jelas: semakin banyak pengemudi harus menelusuri menu untuk menjalankan fungsi dasar, semakin lama pandangan mereka tertuju pada jalan. Hal itu meningkatkan risiko kecelakaan.

Pergeseran Tak Terduga di Tiongkok

Tiongkok, yang pernah menjadi pemimpin dalam interior yang didominasi layar mengikuti model Tesla, kini mengusulkan rancangan peraturan yang mewajibkan kontrol sentuhan untuk fitur keselamatan utama. Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) mewajibkan tombol fisik dengan luas permukaan minimal 10×10 milimeter untuk lampu sein, lampu hazard, pemilihan gigi, dan panggilan darurat.

Pembalikan ini sangat mencolok mengingat adopsi antarmuka digital yang agresif di Tiongkok. Namun, pemerintah kini menyadari bahwa kegunaan dan keamanan harus diutamakan. MIIT juga memperketat standar untuk sistem mengemudi yang canggih, menuntut kinerja keselamatan tingkat manusia.

Produsen Mobil Menanggapi

Merek-merek besar sudah bereaksi. Volkswagen mengakui bahwa ketergantungan berlebihan pada layar sentuh adalah “sebuah kesalahan” dan memperkenalkan kembali tombol fisik pada kendaraan listrik baru. Mercedes-Benz menegaskan bahwa tombol tradisional tetap optimal untuk pengoperasian tertentu, sementara Hyundai menerapkan pendekatan hybrid. Bahkan Tesla dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk menghadirkan kembali tangkai sinyal belok.

Tren ini menandakan koreksi industri yang lebih luas. Setelah bertahun-tahun memprioritaskan estetika dan penghematan biaya, para pembuat mobil menyadari kebenaran sederhana: untuk fungsi-fungsi penting, tombol fisik tetap menjadi solusi paling aman dan intuitif.

Langkah yang dilakukan Eropa dan Tiongkok menggarisbawahi poin penting: meskipun inovasi digital mempunyai tempatnya, hal tersebut tidak boleh membahayakan keselamatan pengemudi. Kembalinya kontrol fisik bukan hanya perubahan desain; ini merupakan pengakuan bahwa teknologi harus melayani kebutuhan manusia, bukan sebaliknya.